Rindu itu tidak pernah datang dengan cara yang ramah. Ia menyusup tiba-tiba di sela sempit pikiranku, bersamaan dengan suara hujan yang jatuh perlahan, aroma tanah basah yang mengingatkanku pada sore-sore lama, atau cahaya senja yang warnanya serupa dengan langit di tempat itu. Tempat yang dulu kusebut rumah, meski kini aku ragu apakah kata itu masih layak kupakai. Kota yang tidak seromantis Bumi Pasundan, tidak selembut Yogyakarta, apalagi semelekat Jakarta. Kota yang pernah kupikir akan adil bagiku dan, untuk sementara, juga baginya.
Ia tak pernah sederhana bagiku. Tidak pernah. Baik kotanya maupun segala yang hidup di dalamnya, tak satu pun hadir dengan cara yang mudah. Ia adalah ruang dengan lapisan kenangan yang berjejal, suara-suara yang saling berbenturan di kepala. Di setiap sudutnya tersimpan kisah, ada yang berbisik, ada yang menjerit, dan ada yang diam namun justru paling keras menghantam.
Pagi itu, aku masih percaya semuanya akan baik-baik saja. Meski ada banyak kemungkinan buruk yang mengintai, aku memilih berpikir positif. Hari-hari awal berjalan seperti lagu dengan nada sederhana. Aku belajar mengenali ritme tempat itu. Di mulai dari pagi yang selalu terburu-buru, siang yang terasa panjang dan melelahkan, malam yang penuh percakapan setengah hati. Sampai aku menemukan sudut favoritku. Tempat yang cukup ramai namun sepi bagiku. Di sudutnya ada sebuah bangku kayu yang usang namun masih bisa ku singgahi. Dari sana, aku sering memandang lampu jalan yang berkedip-kedip, memandang anak-anak yang berlarian, mendengarkan suara tawa dan tangis, pemandangan indah juga memilukan. Banyak hal yang kutulis saat aku di sana, hal-hal yang tak pernah berani kuucapkan pada siapa pun.
Di tempat itu, aku belajar tersenyum dengan tulus. Aku bertemu orang yang kehadirannya terasa seperti rumah kedua. Kami berbagi cerita dan mimpi-mimpi yang kala itu terdengar masuk akal, seolah semuanya akan baik-baik saja jika kami cukup sering bertemu dan saling percaya. Ada malam-malam panjang ketika kami berbincang tentang masa depan, tentang siapa kami ingin menjadi, tentang bagaimana suatu hari nanti kami akan menertawakan kesulitan hari ini. Setiap Sabtu malam, kami selalu bertemu. Entah itu kebetulan atau sesuatu yang sengaja dipertahankan, aku memilih tidak memikirkannya. Bertemu dengannya terasa menjadi satu-satunya hal yang sederhana di kota itu, hingga aku tahu, tak ada yang benar-benar sederhana ketika mulai melibatkan hati.
Pelan-pelan, aku mulai belajar menunggu. Menunggu balasan yang datangnya tak pernah pasti. Menunggu kabar yang hanya muncul ketika harinya terasa terlalu berat baginya. Aku ada, tapi hanya ketika ia membutuhkan jeda. Hanya ketika dunia di sekelilingnya terasa terlalu bising. Aku tidak pernah benar-benar dipilih, aku hanya tempatnya singgah.
“Minggu depan kamu ke mana?” tanyaku.
“Belum tahu,” jawabnya cepat.
Lalu setelah jeda singkat, ia menambahkan, “Nanti aku kabarin ya.” Katanya sambil menatap dalam mataku.
Ia tidak pernah mengabariku. Namun selalu datang kembali, seolah tak pernah benar-benar pergi. Sejak itu aku mengerti, aku tidak pernah diminta tinggal, hanya diam-diam diminta mengerti. Aku hadir sebagai tempat pulang sementara, bukan tujuan. Dan entah sejak kapan, aku menerima peran itu tanpa banyak bertanya, seolah mencintai memang selalu berarti siap berada di urutan yang entah keberapa.
Aku belajar membaca perubahan nadanya, caranya mulai jarang bertanya, caranya menjawab seperlunya, caranya hadir tanpa benar-benar ada. Ada bagian hidupnya yang tidak pernah benar-benar kubolehkan masuki. Namun aku tetap tinggal, berharap suatu hari aku akan cukup penting untuk disebut. Bahwa tidak semua hubungan perlu diberi nama. Bahwa kedekatan tidak harus selalu berujung.
Namun waktu, seperti biasa, tidak pernah menepati janji yang tak pernah ia buat.
Perlahan, nada tempat itu berubah. Senyum tak lagi terasa tulus. Sapaan hangat mulai terdengar lebih jarang. Percakapan menjadi singkat dan hati-hati. Hal-hal yang dulu mudah dibicarakan kini terasa seperti ranjau yang bisa meledak kapan saja.
Luka pertama datang tanpa aba-aba.
Aku tidak akan menjelaskan bentuknya. Karena luka selalu kehilangan maknanya ketika terlalu diperinci, dan aku sendiri tidak sepenuhnya yakin pada lukaku. Yang jelas, sejak hari itu, ada sesuatu di dalam diriku yang retak. Aku masih tinggal di tempat yang sama, menyapa orang-orang yang sama, menjalani rutinitas yang sama, namun rasanya seperti berjalan sambil menyeret bayangan sendiri. Ia ada, tapi tidak sepenuhnya hadir. Ia tidak lagi memberikan senyum manisnya, tidak lagi mengantarkan hangat perasaannya, tidak lagi mengatakan apa yang ada di pikiran dan hatinya. Semuanya berubah tanpa pernah benar-benar diucapkan.
Aku merasakannya, tapi aku tak punya hak untuk bertanya. Saat itulah aku tersadar, kami memang bukan siapa-siapa. Tidak ada janji yang dikhianati, karena tak pernah ada janji yang dibuat. Ada satu malam aku beranikan diriku untuk bertanya padanya.
“Kalau suatu hari aku nggak ada, kamu bakal nyariin nggak?”
Ia tertawa kecil. “Kamu kenapa sih mikir sejauh itu?”
Aku ikut tertawa. Tapi dari caranya menghindar, aku tahu, kehilanganku bukan sesuatu yang ia siapkan untuk dirasakan. Sejak malam itu, aku berhenti menunggu kejelasan. Yang tidak pernah ia rencanakan, tak akan pernah ia pertahankan. Kami hanyalah dua orang asing yang sama-sama ingin didengarkan, namun tidak pernah benar-benar saling memilih.
Tempat itu mengajariku banyak hal, meski dengan cara yang tidak lembut.
Bahwa tidak semua orang yang datang berniat tinggal.